PARADIGMA KULTURAL MASYARAKAT DURKHEIMIAN DALAM CERITA RAKYAT LANGKUSE DAN PUTRI RAMBUT PUTIH (SEBUAH PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA)

Budi Agung Sudarmanto

Abstract


and White Hair are folklore from Perigi, Kayuagung, Ogan Komering Ilir, which sparked the contestation of some of the binary opposition between Palembang and Kayuagung. This paper discusses Durkheimian cultural paradigm consisting of the sacred, classification, rite, and solidarity of the story. the approach taken is the approach of literary sociology by utilizing content analysis or an objective approach in its analysis. The results of the analysis show that two entities, Langkuse and Sunan Palembang, became the most acting actors in the story, and also in the application of this Durkheimian cultural paradigm.


Keywords: folklore, the sacred, classification, rite, solidarity.

 

Abstrak - Cerita rakyat merupakan cerita dari mulut ke mulut yang dimiliki oleh masyarakat pemilik cerita tersebut. Langkuse dan Rambut Putih merupakan cerita rakyat yang berasal dari Perigi, Kayuagung, Ogan Komering Ilir, yang memantik kontestasi beberapa oposisi biner di antara Palembang dengan Kayuagung. Tulisan ini membahas paradigma kultural Durkheimian yang terdiri atas the sacred, klasifikasi, ritus, dan solidaritas dari cerita tersebut. pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan sosiologi sastra dengan memanfaatkan analisis isi atau pendekatan objektif di dalam penganalisisannya. Hasil analisis menunjukkan bahwa dua entitas, yaitu Langkuse dan Sunan Palembang menjadi aktor yang paling berperan di dalam cerita, dan juga di dalam penerapan paradigma kultural Durkheimian ini.

 

Kata kunci: cerita rakyat, the sacred, klasifikasi, ritus, solidaritas.

 


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.