Integrasi Kearifan Lokal dan Teknologi Digital dalam Pemberdayaan Batik Diwo pada Masyarakat di Kabupaten Kepahiang

Authors

  • Nafri Yanti Universitas Bengkulu
  • Sandy Muhammadiansyah Universitas Bengkulu
  • Yudi Setiawan Universitas Bengkulu
  • Malia Dwi Putri Universitas Bengkulu
  • Shesil Cintary Universitas Bengkulu
  • Fina Amanda Nurtejo Universitas Bengkulu

DOI:

https://doi.org/10.31851/fgfb8488

Keywords:

Batik Diwo, Digitalisasi Budaya, Flora Lokal, Kearifan Lokal, Pendekatan Partisipatif

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan mendampingi anggota PKBM Metamorfosa di Kabupaten Kepahiang dalam menggali flora lokal, mengembangkan motif Batik Diwo, menyusun narasi filosofis, dan mendokumentasikannya melalui media digital. Kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif berbasis co-creation yang meliputi identifikasi kondisi awal, penggalian sumber inspirasi, perancangan dan validasi motif, praktik produksi, serta digitalisasi narasi. Sebanyak 20 peserta aktif terlibat dalam kegiatan. Hasil kuesioner awal menunjukkan rata-rata pengenalan terhadap Batik Diwo sebesar 4,40 pada skala 1-5. Kegiatan menghasilkan enam motif, yaitu Sangsea, Buah Kundur, Pajero, Cughup Embun, Dudai Enau, dan Buah Pinang (Bakea). Evaluasi pascakegiatan menunjukkan rata-rata pemahaman peserta terhadap Batik Diwo sebagai identitas budaya Kepahiang sebesar 4,90 pada skala 1–5. Peningkatan pengetahuan peserta terutama terlihat pada pengenalan terhadap motif hasil pengembangan. Pada evaluasi awal, enam motif yang dikembangkan dalam kegiatan belum muncul dalam jawaban peserta, sedangkan setelah kegiatan seluruh 20 peserta mampu menyebutkan keenam motif tersebut. Temuan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta terhadap ragam motif Batik Diwo yang dikembangkan selama kegiatan. Umpan balik peserta juga menunjukkan harapan agar kegiatan dilanjutkan dengan kesempatan belajar yang lebih luas dari tahap desain hingga produksi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif dan digitalisasi narasi berpotensi meningkatkan pengetahuan peserta mengenai Batik Diwo sekaligus mendukung pelestarian budaya lokal Kepahiang.

References

[1] N. Yanti, A. Arono, F. Hiasa, F. Junaidi, N. Noermanzah, dan R. Kurniawan, “Indonesian teachers’ roles in designing and utilizing AI-powered animated videos: A case study on classroom practices and character development,” Int. J. Learn. Teach. Educ. Res., vol. 24, no. 6, hal. 833–856, 2025, doi: 10.26803/ijlter.24.6.38.

[2] N. Sugrah et al., “Branding batik khairunqu: Pengembangan motif batik kearifan lokal Maluku Utara,” J. Pengabdi. Masy. Khatulistiwa, vol. 8, hal. 193–206, 2025, doi: 10.31932/jpmk.v8i2.5455.

[3] M. F. Naam et al., “Penciptaan motif batik berbasis kearifan lokal di Desa Mangunsari untuk penguatan industri kreatif,” JURPIKAT, vol. 7, no. 2, hal. 848–860, 2026, doi: 10.37339/jurpikat.v7i2.2841.

[4] S. A. Maysara dan Y. Yuliarma, “Batik tulis Diwo di Kabupaten Kepahiang (studi kasus di usaha Sumber Hayati),” Gorga J. Seni Rupa, vol. 13, no. 1 SE-Gorga : Jurnal Seni Rupa, hal. 388–394, doi: 10.24114/gr.v13i01.57035.

[5] F. Hasyim, K. Malik, F. Rizal, dan Y. Yudistira, “Implementasi algoritma convolutional neural networks (CNN) untuk klasifikasi batik,” J. Kecerdasan Buatan , Komputasi dan Teknol. Inf., vol. X, no. X, hal. 40–47, 2021, doi: 10.33650/coreai.v2i2.3365.

[6] N. Kartika, R. D. Dienaputra, S. Machdalena, dan A. Nugraha, “Batik pasiran: wujud kearifan lokal batik kampung pasir Garut,” Panggung, vol. 30, no. 4 SE-Articles, Des 2020, doi: 10.26742/panggung.v30i4.1368.

[7] A. R. Wijayaningputri dan B. D. Regina, “Visualisasi dan makna filosofi motif batik teratai di galeri soendari berbasis penguatan pendidikan karakter,” JP2SD (Jurnal Pemikir. dan Pengemb. Sekol. Dasar), vol. 8, no. 2, hal. 148–156, 2020, doi: 10.22219/jp2sd.v8i2.13813.

[8] E. Flores-García, Y. Jeong, S. Liu, M. Wiktorsson, dan L. Wang, “Enabling industrial internet of things-based digital servitization in smart production logistics,” Int. J. Prod. Res., vol. 61, no. 12, hal. 3884–3909, Jun 2023, doi: 10.1080/00207543.2022.2081099.

[9] E. S. Priowirjanto, E. Suparman, M. Amirulloh, dan E. Rahmawati, “QR codes to prevent copyright infringement: case study of trusmi batik in Cirebon, Indonesia,” J. Appl. Secur. Res., vol. 19, no. 2, hal. 161–167, Apr 2024, doi: 10.1080/19361610.2022.2113731.

[10] R. Siskayanti, P. Purnamasari, M. E. Kosim, dan D. Nasihardani, “Pelatihan terintegrasi standardisasi produksi, pengemasan, HPP, dan identitas merek UMKM di Desa Mekarmukti,” Kemas J. J. Pengabdi. Masy., vol. 4, no. 2, hal. 74–84, 2026, doi: doi.org/10.31851/g3kwzn90.

Downloads

Published

2026-09-18

How to Cite

Integrasi Kearifan Lokal dan Teknologi Digital dalam Pemberdayaan Batik Diwo pada Masyarakat di Kabupaten Kepahiang. (2026). Kemas Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(2), 129-141. https://doi.org/10.31851/fgfb8488